Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Desember 2014

Pesut yang Tersesat

Cerita saya dimuat di Majalah Bobo, Edisi 35 yang terbit pada 4 Desember 2014.
Naskah saya kirim melalui email: naskahbobo@gramedia-majalah.com pada tanggal 9 Juli 2014.
Informasi pemuatan naskah, saya terima melalui email jawaban yang dikirim pada tanggal 25 November 2014.
Pihak redaksi Bobo meminta data pribadi berupa no rekening dan seterusnya untuk membayar honor menulis.
Seru kan. Udah gitu, saya dapat majalah sebagai bukti terbit juga.
Asiiik, Alhamdulillah.

Oiya, naskah ini sebelumnya pernah ditolak, lho. Baca di sini.
Dan ini dia ceritanya...
Selamat membaca!


Pesut Yang Tersesat
Dwi Rahmawati


Pagi itu begitu gaduh. Bunyi kentongan bertalu, memanggil warga untuk berkumpul. Gardu di pinggir sungai Mahakam tempat sumber suara berasal, sekejap dipadati warga.
Sungai Mahakam sepanjang 920 Km menjadi sumber kehidupan warga. Meski airnya berwarna kecokelatan, Mahakam menjadi sumber air minum, peternakan ikan, dan sarana transportasi.
Abah Usup sesepuh kampung sudah berada di sana. Ia tampak bingung dan berjalan mondar-mandir. Sesekali berhenti dan mengusap kepala Aslan, Isal, dan Eza yang basah kuyup.
“Terima kasih atas kedatangan Bapak dan Ibu sekalian,” kata Pak Salim sambil meletakkan kentongan.
“Ada apa ini, Pak?” tanya seorang Ibu tak sabar.
“Seekor anak pesut tersangkut jaring. Anak-anak ini yang menemukannya,” kata Pak Salim. Sesama warga saling berbisik hingga suara menjadi gaduh.
“Pesut itu masih berada di jaring keramba Pak Abu. Sepertinya keramba Bapak mengalami kerusakan,” kata Pak Salim menatap Pak Abu.
Pak Abu tersenyum tipis, ”Keramba itu sudah kosong. Terlalu banyak sampah menyusup ke dalam, membuat ikan-ikan tidak betah.”
“Kalau begitu ayo, cepat kita tolong pesut itu. Nanti kita bantu Pak Abu memperbaiki kerambanya!” Usul Pak Samat sambil melepas kaosnya.
Warga pun turun ke sungai, dengan cekatan mereka mengangkat jaring. Benar saja, ada banyak sampah plastik yang menepel di jaring. Ada bungkus mi instan, plastik kemasan minyak goreng, deterjen, gelas dan botol air minum kemasan yang mengotori sungai.
Sebagian warga memegangi anak pesut yang tampak panik. Ekor lumba-lumba air tawar itu rupanya tersangkut di jaring. Sedangkan kepalanya diselubungi kantong plastik warna hitam ukuran besar. Warga segera melepaskannya, pesut itu pun melesat ke tengah sungai. Kepala mucul beberapa kali sebelum akhirnya menghilang.
“Pantas saja ia tersesat hingga ke pinggiran sungai. Rupanya sampah-sampah plastik mengaburkan penglihatannya,” Abah usup menyeka wajahnya yang basah.
“Wow, ini pertama kali aku malihat pesut,” bisik Aslan pada kedua sahabatnya.
“Ya, aku juga. Sayangnya dia kemari karena tersesat. Sampah-sampah plastik itu hampir saja membuatnya mati terjebak jaring,” jawab Isal.
“Kata Ayahku, di Indonesia pesut adalah mamalia air tawar yang hanya ada di sungai Mahakam ini. Sekarang keberadaanya terancam punah,” sambung Eza.
“Harusnya kita bisa menjaganya agar bisa hidup sehat tanpa terganggu sampah. Supaya jumlahnya terus bertambah,” jawab Isal.
“Kalau begitu, ayo kita kumpulkan sampah plastik ini!” ajak Aslan.
Ketiga bocah itu mengumpulkan sampah plastik yang betebaran di sungai. Para warga yang membantu Pak Abu memperbaiki keramba mengerutkan dahi melihat aksi mereka.
“Sudah, biarkan saja sampah-sampah itu hanyut ke hilir sungai. Nanti juga hilang sendiri,” celetuk Pak Samat.
“Setahu saya plastik tidak dapat hancur oleh air, Pak. Sampah-sampah ini harus dipindahkan ke tempat lain,” jawab Aslan.
“Iya, Nak. Selain mengganggu, sampah plastik ini bisa membuat sungai kita dangkal,” imbuh Pak Abu.
“Kalau sungai dangkal, berarti tak mampu menampung air hujan atau air pasang. Pantas saja akhir-akhir ini air sungai sering meluap hingga ke rumah,” kata Pak Salim.
“Bapak-bapak, bagaimana kalau setelah ini kita kumpulkan sampah-sampah plastik di sungai ini?” ajak Abah Ucup.
“Tapi Bah, mau dibawa ke mana sampah-sampah itu? Percuma saja kalau hanya ditumpuk,” sela Pak Otong.
“Di bakar saja,” usul Pak Samat.
“Jangan dibakar, Pak. Asapnya bisa mengganggu warga lainnya,” cegah Pak Abu.
“Jadi bagaimana?” Pak Samat tampak kecewa. Semua yang ada hanya terdiam.
“Sampah plastik yang sudah terkumpul bisa dijual ke kampung di hilir. Kami bertiga bisa membawanya ke sana,” usul Eza.
“Dijual..., memangnya laku?” Pak Samat penasaran.
“Harganya tidak seberapa, sih. Di sana ada koperasi yang mengolah sampah-sampah plastik menjadi kantong plastik daur ulang,” jelas Aslan.
“Ide yang bagus. Bapak setuju, Nak. Nanti Bapak pinjamkan gerobak di rumah untuk mengangkut sampah-sampah plastik ini,” dukung Pak Abu.
“Sekalian saja seluruh warga kampung kita diwajibkan mengumpulkan sampah plastiknya di rumah. Setiap hari Sabtu kita jual sampah-sampah itu ke kampung hilir,” usul Pak Salim.
“Terus uangnya untuk siapa?” tanya Pak Otong.
“Diserahkan ke kepala kampung saja, untuk menambah uang kas. Bagaimana?” sahut Pak Abu.
“Saya setuju...,” Pak Otong tersipu malu.
Kegiatan menolong pesut yang tersesat disambung memperbaiki keramba Pak Abu, berlanjut dengan gotong royong membersihkan sungai.
Aslan, Isal dan Eza tampak senang karena usul mereka di terima.
“Aku masih ingin melihat pesut itu kembali ke mari,” kata Aslan.
“Tapi bukan karena tersesat akibat sampah, ya, hehehe...” sambung Eza. [ ]

Sabtu, 04 Januari 2014

Susu Tajin

Nasi goreng dengan telur mata sapi, dan segelas susu hangat tersaji di atas meja. Kayla yang telah mengenakan seragam putih-merah bersemangat menyantapnya.
“Susunya dihabiskan ya, Kay!” pesan Ibu lembut.
Kayla mengangguk. Setelah Ibu berlalu, ia bergegas membawa gelas ke belakang. 
“Saatnya minum susu,” Kayla tersenyum melihat 200ml air berwarna putih yang bergizi itu meluncur membasahi pot bunga. 
“Kay, waktunya berangkat ke sekolah!” kata Ibu mengingatkan.
“Iya, Bu...” Kayla meletakkan gelas bekas susu, bergegas menghampiri Ibu, dan berpamitan.
Rupanya, Eli sahabatnya telah menunggu. Kay dan Eli berangkat ke sekolah yang tak jauh dari rumah dengan berjalan kaki.
“Apa itu?” Kay menunjuk botol minuman Eli.
Eli berusaha menyembunyikannya, “Oh, ini, bekal minumanku.”
“Jus sirsak, ya?” tebak Kay meraih paksa botol transparan dari tangan Eli.
“Hmmm... bukan,” Eli menyambar botol miliknya, namun Kay mengelak.
“Terus apa, dong?” Kay mengocok botol dan mengamati air di dalamnya.
“Kembalikan, Kay!” suara Eli mengeras.
“Maaf, El. Aku hanya ingin tahu. Sepertinya, rasanya enak.” Kay mengembalikan botol Eli.
“Kau mau?” Eli membuka tutup botol dan menyerahkan pada Kay. “Nih, minum!”
Kay terbelalak, namun tak kuasa menolak. Glek... seteguk air kental yang terasa asin itu terpaksa ditelannya. “Minuman apa ini, El?”
Wajah Eli terlihat lesu, “Ibu tak bisa membelikanku susu. Jadi, air tajin inilah gantinya. Saat meminumnya, aku selalu membayangkan secangkir susu hangat yang lezat.”
“Air tajin?” Kay terkejut, ia baru tahu ternyata tak semua orang bisa minum susu seperti dirinya. 
“Tajin adalah air rebusan beras sebelum dikukus menjadi nasi. Agar lebih nikmat, Ibu menambahkan sedikit garam,” jelas Eli.
Kasihan Eli, batin Kay sambil merangkul bahu sahabatnya. 

Tiba-tiba Kay teringat segelas susu yang dibuangnya tadi pagi. Kay menyesal. Padahal, susu adalah minuman bergizi mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan anak seusianya agar tumbuh besar dan sehat. Mulai saat itu Kay berjanji, akan selalu menghabiskan susu yang siapkan Ibu.
***

Senin, 09 September 2013

Sulap Kacang Hijau

 
Naskah cerita anak ini saya tulis dengan font times new roman, ukuran 12, spasi 1,5 sepanjang tiga halaman, dan dikirm ke e-mail kru_ummi@yahoo.com tanggal 22 Maret 2013. Jawaban pernyataan layak dimuat, saya terima tanggal 23 April 2013. Kemudian tanggal 29 Mai 2013 saya dikabari lagi bahwa cernak tersebut akan dimuat di UMMI edisi Juli 2013. Majalah bukti terbit saya terima awal Juli 2013, dan honor sebesar Rp150.000,- ditransfer ke rekening. Oiya, saat mengirimkan cernak, saya melampirkan scan KTP dan NPWP.


Sulap Kacang Hijau
Oleh Dwi Rahmawati

Pagi itu, Nisa bangun lebih awal dari biasanya. Ia bergegas menghampiri ibunya yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.
“Tumben Nisa bangun pagi sekali?,” tanya ibu sambil melirik jam dinding di dapur yang masih menunjukkan pukul 5.30 pagi.
“Nisa harus cepat berangkat ke sekolah. Ayo bu, bantu Nisa mandi dan pakai seragam!,” pinta Nisa tak sabar.
Setelah mandi dan mengenakan seragam TK, Nisa bersama ayah dan Kak Nina sarapan bersama. Ibu menyiapkan menu khusus pagi itu, selain nasi goreng dengan telur mata sapi, ada camilan kacang hijau goreng.
“Bu... ini apa? Rasanya manis dan enak, tapi kok ada kacang hijaunya?,” tanya Nisa sambil mengambil sebuah gorengan dan menggigitnya. Sesekali Nisa menbaui aroma kacang hijau.
“Itu kacang hijau goreng. Terbuat dari kacang hijau yang direbus kemudian dihaluskan dengan gula. Setelah itu dibuat menjadi bola-bola, dicelupkan ke dalam adonan tepung, telur, dan air. Terus digoreng sampai kekuningan.” Ibu menjelaskan.
“Nanti kami akan panen kacang hijau di kebun sekolah. Setelah panen, kami akan memasak bersama. Nisa akan bilang pada ibu guru di sekolah supaya kacang hijaunya dibuat gorengan seperti ini saja ya bu.”
Ibu mengangguk sambil tersenyum, “Ayo habiskan sarapannya, supaya kuat dan bisa panen kacang hijau.”
“Bu, nanti Nisa bawa tas selempang yang diisi botol air putih saja. Tidak usah pakai tas ransel yang ada buku dan pensilnya, kami kan mau praktik memasak”. Pinta Nisa.
Nisa memiliki beberapa tas yang biasa ia gunakan ke sekolah. Dia paling sering menggunakan tas ransel yang berisi buku dan perlengkapan menulis.
“Kalau begitu ibu tambahkan handuk kecil ya, untuk mengelap keringat Nisa.” Kata ibu.
Nisa mengacungkan ibu jarinya tanda setuju. Setelah itu ia berpamitan berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, karena jaraknya sangat dekat dengan rumah.
***
Siangnya, sepulang sekolah Nisa tampak bersemangat. Ia berjalan bersama Iis dan Lia teman sekelas yang tinggal tak jauh dari rumahnya.
“Seru ya panen kacang hijau tadi. Ini pengalaman pertamaku memetik kacang hijau.” Kata Lia.
“Tapi yang paling seru waktu kita masak bubur kacang hijau. Memeras santan dan menyiapkan gula merah. Sebenarnya aku paling suka menghisap gula merah, rasanya manis seperti permen.” Sambung Lia.
“O... jadi kamu yang makan gula merahnya, pantas saja buburnya kurang manis.” Jawab Nisa disambut dengan gelak tawa ketiganya.
“Teman-teman, jangan lupa sulap kacang hijaunya ya. Harus jadi hidangan unik.” Iis mengingatkan.
Setelah panen, ibu guru membagikan setengah kilo kacang hijau kepada setiap murid Taman Kanak-kanak di kelas B tempat Nisa, Lia, Iis bersama teman-teman lainnya belajar. Mereka mendapat tugas menyulap kacang hijau tersebut menjadi masakan kesukaan mereka. Dan membawanya ke sekolah tiga hari kemudian.
“Aha... aku mau buat puding kacang hijau. Mamaku paling jago kalau buat puding.” Kata Lia.
“Aku mau buat susu kacang hijau, aku kan suka minum susu.” Kata Iis.
“Susu... dari kacang hijau... memangnya bisa?,” Tanya Nisa keheranan memandangi Iis, demikian pula dengan Lia.
“Namanya juga sulap, ya pasti bisa dong. Tiga hari lagi aku bawakan susu kacang hijau untuk kalian ya.” Iis tersenyum.
“Kamu mau buat sulap apa?,” tanya Iis pada Nisa.
“Bola-bola kacang hijau goreng.”
“Kacang hijau di goreng...?,” Iis dan Lia bersamaan.
“Ya... namanya juga sulap.” Nisa membalas penuh kemenangan.
“Teman-teman, aku duluan!.” pamit Nisa yang tiba lebih dulu di rumahnya. Iis dan Lia melambaikan tangan pada Nisa sebelum mereka berpisah.
***
Dua hari kemudian. Sore itu sangat cerah, Nisa dan ibunya tampak asyik menyiram tanaman di halaman depan. Tiba-tiba Nisa teringat tugas yang diberikan oleh bu guru beberapa waktu lalu.
Nisa bergegas menuju kamar. Ia segera menemukan tas selempang yang berisi kacang hijau tergantung di dekat jendela kamar. Nisa tampak panik saat mengetahui tasnya basah. Rupanya air merembes dari tutup termos yang tidak erat hingga membasahi handuk yang digunakan untuk membungkus kacang hijau.
Betapa terkejutnya Nisa melihat kacang hijaunya sudah berubah. Ia segera membawanya pada ibu.
“Tenang nak, ini masih bisa diolah menjadi hidangan sedap.” Kata ibu setelah mendengar penuturan Nisa.
“Tapi kenapa kacang hijaunya jadi begini, bu?,” tanya Nisa penasaran.
“Ini namanya kecambah atau tauge, tunas muda dari biji kacang hijau yang disimpan di tempat basah, dan terkena sinar matahari. Kalau di semai di tanah, kecambah akan tumbuh menjadi tanaman kacang hijau,” Ibu menjelaskan.
“Kacang yang dikecambahkan mengandung vitamin A, B, dan C tiga kali lipat lebih banyak. Kandungan protein kecambah lebih tinggi bila dibandingkan dengan kandungan protein dalam biji kacang aslinya.” Sambung ibu, disambut dengan anggukan kepala Nisa.

***
Keesokan harinya. Tiba giliran Nisa maju ke depan kelas. Sebelum membuka kotak berisi makanan, ia menceritakan perubahan kacang hijaunya yang menjadi tauge. Kemudian dia mengeluarkan menu yang diolah dengan menambahkan tauge. Bola-bola tauge goreng. Ibu membuat adonan bakso dicampur tauge, kemudian menggorengnya. Ibu juga membuatkan saus dari tomat segar yang dihancurkan dan ditumis dengan bawang putih.
Ibu guru dan teman-teman bertepuk tangan. Pengalaman Nisa dengan kacang hijaunya adalah sulap yang paling unik. Dan menu makanan yang disajikan Nisa juga sangat lezat dan bergizi. Nisa sangat senang. Tiba-tiba ia teringat ibu yang telah membantunya. Terima kasih, Bu. Nisa sayang Ibu, bisik Nisa dalam hati.