Minggu, 13 Juli 2014

Mengajarkan Anak Membaca dan Menulis di Masa Penting Pertumbuhannya

Saat membaca buku Revolusi Cara Belajar,  sara takjub melihat tulisan tangan seorang anak berumur lima tahun. Tulisan yang indah dan rapi itu dibuat pada tanggal 7 April 1909. Melalui program montessori, anak-anak dikenalkan dengan kegiatan membaca dan menulis sejak dini. Saat berusia 2,5 tahun, anak mulai dikenalkan dengan pengalaman pra menulis, mengenal cerita, dan percakapan.

Jangan khawatir, anak tidak langsung diajari bagaimana menulis. Dengan kesabaran, sang guru menciptakan pengalaman konkret yang membuat anak mengembangkan kemampuan ‘motor’ hingga anak mengeluarkan kemampuan menulis secara mandiri. Bagaimana caranya?

Anak-anak dilatih mengembangkan keterampilan pra menulis melalui kegiataan bermain yang menyenangkan. Ada 24 langkah awal untuk mahir menulis, yaitu mulai dari bermain bola besar pada masa merangkak, menyusun cangkir plastik untuk anak usia 9 sampai 18 bulan, bermain puzzle, bermain air, meronce manik-manik atau makaroni, dan seterusnya sampai anak bisa menulis namanya sendiri menjelang usia empat tahun.

Jika sudah sampai tahap tersebut, barulah anak diarahkan untuk meniru tulisan orangtua. Dengan melibatkan anak menulis daftar belanja, dan bermain permainan menulis di komputer, bisa dipastikan anak tersebut akan keranjingan menulis sebelum umur lima tahun.

Demikian pula dengan belajar membaca untuk anak usia dini, ternyata bukanlah hal yang menakutkan. Belajar membaca seharusnya berjalan secara alami seiring dengan kemampuan berbicara anak. Beragam cara kreatif telah dicontohkan metode Glenn Doman untuk membuktikan bahwa belajar membaca itu menyenangakan. Bahkan sama mudahnya dengan belajar berbicara.

Dari sini saya pun terpanggil untuk memberikan kontribusi bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. Mencerdaskan anak bangsa bukan saja tugas mulia yang diemban para guru, tetapi juga orangtua dan masyarakat. Saya pun terpanggil untuk ikut serta mengambil peran penting ini.

Setelah dikaruniai dua orang anak, saya memilih mengabdikan diri untuk mengurus keluarga. Saya pun harus rela berpisah dengan puluhan anak didik sebuah TK swasta tempat saya mengajar. Awalnya cukup berat karena saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan kegiatan mengajar yang sudah saya lakukan selama sekitar 3 tahun.

Atas dukungan keluarga, saya menyulap salah satu kamar di lantai dua rumah kami menjadi kelas belajar. Murid pertama saya adalah anak-anak tetangga yang juga adalah teman sepermainan anak pertama saya yang usianya sekitar 5 sampai 6 tahun. Saya mengajarkan mereka membaca dengan jadwal dua kali pertemuan setiap seminggunya, dan lama belajar satu jam per pertemuan.


Belajar sambil bermain 

Yang membanggakan, ada beberapa anak yang dapat membaca dalam waktu tiga bulan. Sedangkan beberapa anak lagi, termasuk anak saya sendiri baru bisa membaca setelah lima bulan belajar bersama saya di rumah. Fayruz putri sulung saya saat itu baru berusia 3 tahun 10 bulan. Semua dilakukan dengan senang hati tanpa paksaan. Metode belajarnya sangat menyenangkan, bermain tetap menjadi kegiatan inti.

Belajar Membaca Menjadi Perdebatan

Memberikan pelajaran membaca untuk anak usia dini masih menjadi perdebatan di kalangan guru dan orangtua. Berdasarkan pengalaman saat menjadi guru TK, mengajarkan membaca untuk anak usia dini menjadi dilema. Satu pihak mengatakan bahwa membaca itu berkaitan dengan pemahaman logika dan menghafal simbol-simbol. Oleh karena itu, membaca tidak diajarkan di TK.

Sedangkan konsep pelajaran kelas 1 SD bukanlah tahapan belajar membaca lagi, tetapi masuk pada tahapan pemahaman bacaan agar bisa menjawab soal dengan benar. Lalu bagaimana nasib anak-anak yang belum bisa membaca tadi bisa menikuti pelajaran?

Guru TK kemudian mengantisipasinya dengan memberikan rangsangan membaca pada muridnya. Melalui beragam permainan kata, lagu, dan hiasan dinding yang dipajang di kelas, para guru berupaya mengenalkan aksara untuk mempersiapkan anak belajar membaca. Menurut pengalaman, khusus untuk murid TK B yang akan melanjutkan ke SD, belajar membaca menjadi pelajaran tambahan setelah jam sekolah berakhir.

Sebagian setuju bila anak usia dini cukup bermain saja untuk mencapai tahap perkembangannya dengan baik. Namun banyak juga orangtua murid yang dengan sadar mendaftarkan anak-anaknya untuk mengikuti les, dan harus membayar ekstra untuk kegiatan itu.

Seringkali saya berfikir, mengapa kita tidak bisa menemukan solusi yang tepat untuk menyelsaikan masalah klise ini. Harus diakui dengan kemampuan membaca yang dikuasai seorang anak sejak dini sangat bermanfaat untuk mengembangkan pengetahuannya kelak. Anak bisa membaca buku, mengetahui informasi dan pengetahuan untuk meningkatkan kecerdasannya.

Tentu saja cara belajar membaca yang harus dikoreksi agar tetap bisa diikuti anak tanpa membebaninya. Merancang kegiatan belajar melalui permaian, selain mengasah kemampuan akademik juga melatih kemampuan motorik anak, sehingga pertumbuhan anak berkembang sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Langkah untuk Belajar Membaca

Cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan minat membaca pada anak adalah dengan menunjukkan buku berwarna cerah dengan ukuran tulisan besar, dan membacakannya setiap hari kepada anak. Biasanya kegiatan membacakan cerita atau mendongeng ini dilakukan orangtua saat hendak menidurkan anak.

Hubungkan membaca dengan semua indra, caranya beri label atau nama semua barang sehingga anak dapat mengenali tulisan dan bacaannya sekaligus. Sebaiknya tulisan tersebut dicetak dengan tinggi 7 senti meter. Beri nama semua benda yang bisa dilihat anak, mulai dari nama anggota keluarga, nama bagian tubuh, dan benda lainnya di sekitar rumah.

Langkah selanjutnya untuk belajar membaca, yaitu memberi nama semua hal yang bisa dilakukan anak. Misalnya, duduk, berdiri, berjalan, berlari, melompat, berguling, berbicara, lambat, tenang, dan seterusnya. hal yang terpenting lainnya adalah dengan selalu beri pujian apabila anak bisa menjawab pertanyaan dan melakukan perintah dengan benar.

Pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah, apakah pembelajaran dini tersebut akan merampas kebahagiaan anak di masa kanak-kanaknya? Selama proses belajar dilakukan dengan penuh cinta dan kasih sayang, maka hal tersebut akan menyenangkan.

Peringatan bagi para ibu yang mengajari putra-putrinya di rumah, apabila sedang dalam kondisi emosional dan tidak dapat menikmati waktu saat mengajari anaknya, maka berhentilah.

Menulis Buku Panduan Membaca

Lalu bagaiman dengan bagi orangtua yang terlambat melakukan stimulasi tersebut dalam usia tiga tahun pertama buah hati mereka? Sedangkan anak mereka saat ini akan memasuki sekolah dasar namun belum bisa membaca.

Pengalaman selama mengajar membaca telah saya tuangkan menjadi buku panduan belajar membaca berjudul ‘Aku Bisa Baca jilid 1 dan 2’. Melalui buku tersebut saya ingin berbagi tips dan trik mengajarkan membaca mudah dan menyenangkan kepada para orangtua dan guru di lembaga pendidikan pra sekolah, maupun guru kursus membaca. Semoga hal ini bisa membantu.


Saya tak ingin memperdebatkan tentang penting tidaknya mengajarkan anak membaca. Saya ingin berbuat dan menunjukkan bahwa mengajarkan anak usia dini membaca bukanlah hal yang negatif. Sebagai bagian dari bangsa ini, saya merasa terpanggil untuk turut aktif mencerdaskan anak bangsa. 

Dan beginilah pengalaman saya selama mengajar membaca untuk anak-anak usia dini dan juga anak-anak usia sekolah dasar. Saya ingin membaginya kepada seluruh orangtua dan guru di pelosok negeri ini. Puluhan anak berhasil menyelesaikan program membaca dengan hasil memuaskan. 


Kelas Klasikal, jumlah murid 5 sampai 7 orang per kelas

Anak-anak hari ini adalah pemimpin Indonesia di usia emasnya kelak. Semoga akan lahir generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, tangguh, dan penuh dedikasi. Dan inilah saatnya bagi saya, anda, dan kita semua untuk bahu-membahu mencerdaskan anak bangsa dengan karya dan kreativitas yang kita miliki. Majulah Indonesia Raya. [ ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar